SELAMAT DATANG PEMBUKA

HAI TEMAN-TEMAN NAMAKU NAUFAL, NAMA LENGKAPKU NAUFAL RAMADHAN SETIAWAN, AKU MEMBUAT BLOG INI UNTUK MENDIDIK, INSYALLAH MENDIDIK BANGSA INDOENESIA. AKU AKAN MEMASUKKAN SEJARAH-SEJARAH MUSEUM INDONESIA,TENTANG BIOLOGI,FISIKA DAN LAINNYA. TEMAN-TEMAN YANG MEMBUKA BLOG INI TOLONG KLIK LIKE YA........... SUPAYA BLOG INI BISA JAYA SEPERTI NEGARA INDONESIA INI.
TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA TULISAN INI,SEKALI LAGI TERIMA KASIH.ASSALAMUALAIKUM.WR.WB

Jumat, 06 Juli 2012

SEJARAH MUSEUM GEOLOGI BANDUNG


Keberadaan Museum Geologi berkaitan erat dengan sejarah penyelidikan geologi dan tambang di wilayah Nusantara yang dimulai sejak pertengahan abad ke-17 oleh ahli geologi dari Eropa. Setelah di Eropa terjadi revolusi industri pada pertengahan abad ke-18, mereka sangat membutuhkan bahan tambang sebagai bahan dasar industri. Pemerintah Belanda sadar akan pentingnya penguasaan bahan galian di wilayah Nusantara. Dengan jalan itu diharapkan perkembangan industri di Negeri Belanda dapat ditunjang. Maka dibentuklahDienst van het Mijnwezen pada tahun 1850. Kelembagaan ini berganti nama jadi Dienst van den Mijnbouw pada tahun 1922, yang bertugas melakukan penyelidikan geologi dan sumberdaya mineral. Hasil penyelidikan yang berupa contoh-contoh batuan, mineral, fosil , laporan dan peta memerlukan tempat untuk penganalisaan dan penyimpanan, sehingga pada tahun 1928 Dienst van den Mijnbouw membangun gedung di Rembrandt Straat Bandung. Gedung tersebut pada awalnya bernama Geologisch Laboratorium yang kemudian juga disebut Geologisch Museum. Gedung Geologisch Laboratorium dirancang dengan gaya Art Deco oleh arsitek Ir. Menalda van Schouwenburg, dan dibangun selama 11 bulan dengan 300 pekerja dan menghabiskan dana 400 Gulden, mulai pertengahan tahun 1928 sampai diresmikannya pada tanggal 16 Mei 1929. Peresmian tersebut bertepatan dengan penyelenggaraan Konggres Ilmu Pengetahuan Pasifik ke-4 (Fourth Pacific Science Congress) di Bandung pada tanggal 18-24 Mei 1929.
museum1929
Foto Gedung Museum Geologi tahun 1929

peserta-kongres
Foto Peserta Kongres Ilmu Pengetahuan Asia Pasifik ke-IV

MASA PENJAJAHAN JEPANG

Sebagai akibat dari kekalahan pasukan Belanda dari pasukan Jepang pada perang dunia II, keberadaan Dienst van den Mijnbouw berakhir. Letjen. H. Ter Poorten (Panglima Tentara Sekutu di Hindia Belanda) atas nama Pemerintah Kolonial Belanda menyerahkan kekuasaan teritorial Indonesia kepada Letjen. H. Imamura (Panglima Tentara Jepang) pada tahun 1942. Penyerahan itu dilakukan di Kalijati, Subang. Dengan masuknya tentara Jepang ke Indonesia, Gedung Geologisch Laboratorium berpindah kepengurusannya dan diberi namaKOGYO ZIMUSHO dan setahun kemudian berganti nama CHISHITSU CHOSACHO.
Pada masa pendudukan Jepang, pasukan Jepang mendidik dan melatih para pemuda Indonesia untuk menjadi: PETA (Pembela Tanah Air) dan HEIHO (pasukan pembantu bala tentara Jepang pada Perang Dunia II). Laporan hasil kegiatan di masa itu tidak banyak yang ditemukan, karena banyak dokumen (termasuk laporan hasil penyelidikan) yang dibumihanguskan tatkala pasukan Jepang mengalami kekalahan di mana-mana pada awal tahun 1945.
MASA KEMERDEKAAN
Setelah Indonesia merdeka pada Tahun 1945, pengelolaan Museum Geologi berada dibawahPusat Djawatan Tambang dan Geologi (PDTG/1945-1950). Pada tanggal 19 September 1945, pasukan sekutu pimpinan Amerika Serikat dan Inggris yang diboncengi oleh Netherlands Indiës Civil Administration (NICA) tiba di Indonesia (mendarat di Tanjungpriuk, Jakarta). Di Bandung mereka berusaha menguasai kembali kantor PDTG yang sudah dikuasai oleh para pegawai Indonesia. Tekanan yang dilancarkan oleh pasukan Belanda memaksa kantor PDTG dipindahkan ke Jl. Braga No. 3 dan No. 8 Bandung pada tanggal 12 Desember 1945. Kepindahan kantor PDTG rupanya terdorong pula oleh gugurnya seorang pengemudi bernamaSakiman dalam rangka berjuang mempertahankan kantor PDTG . Pada waktu itu, Tentara Republik Indonesia Divisi III Siliwangi mendirikan Bagian Tambang, yang tenaganya diambil dari PDTG. Setelah kantor di Rembrandt Straat ditinggalkan oleh pegawai PDTG, pasukan Belanda pun di tempat itu mendirikan lagi kantor yang bernama Geologische Dienst. Di mana-mana terjadi pertempuran, maka sejak Desember 1945 sampai dengan Desember 1949, selama 4 tahun kantor PDTG terlunta-lunta pindah dari satu tempat ke tempat lain. Pemerintah Indonesia berusaha menyelamatkan dokumen - dokumen hasil penelitian geologi sehingga harus berpindah pindah tempat dari Bandung – Tasikmalaya - Solo – Magelang - Yogyakarta, baru pada Th 1950 kembali ke Bandung.
Daa_f_lasutlam usaha menyelamatkan dokumen - dokumen tersebut, pada tanggal 7 mei 1949, Kepala PUSAT JAWATAN TAMBANG DAN GEOLOGI,  Arie Frederik Lasut, diculik dan dibunuh tentara belanda dan gugur sebagai kusuma bangsa di Desa Pakem Yogyakarta.
Sekembalinya ke Bandung, Museum Geologi mulai mendapat perhatian dari pemerintah RI, terbukti pada tahun 1960 Museum Geologi dikunjung oleh Presiden pertama RI , Ir. Soekarno. Pengelolaan Museum Geologi yang tadinya dibawah PUSAT DJAWATAN TAMBANG DAN GEOLOGI (PDTG) berganti nama menjadi: Djawatan Pertambangan Republik Indonesia (1950-1952), Djawatan Geologi (1952-1956), Pusat Djawatan Geologi (1956-1957), Djawatan Geologi (1957-1963), Direktorat Geologi (1963-1978), Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi (1978 - 2005) , Pusat Survei Geologi mulai akhir tahun 2005 sampai sekarang.
Seiring dengan perkembangan jaman, pada tahun 1999 Museum Geologi mendapat bantuan dari Pemerintah Jepang senilai 754,5 juta yen untuk direnovasi. Setelah ditutup selama satu tahun, Museum Geologi dibuka kembali dan pembukaannya diresmikan pada tanggal 20 Agustus Tahun 2000 oleh Wakil Presiden RI waktu itu Ibu Megawati Soekarnoputri yang didampingi oleh Menteri Pertambangan dan Energi Bapak Susilo Bambang Yudhoyono.
Dengan penataan yang baru ini peragaan Museum Geologi terbagi menjadi 3 ruangan yang meliputi Sejarah Kehidupan, Geologi Indonesia serta Geologi untuk Kehidupan Manusia.Sedangkan untuk dokumentasi koleksi tersedia sarana penyimpan koleksi yang lebih memadai diharapkankan pengelolaan contoh koleksi di Museum Geologi lebih mudah diakses oleh pengguna baik peneliti maupun grup industri. Mulai tahun 2002 Museum Geologi melalui Kepmen ESDM Nomor: 1725 tahun 2002 statusnya menjadi Unit Pelaksana Teknis Museum Geologi dilingkungan Balitbang ESDM. Mulai akhir 2005 Museum Geologi berada dibawah Badan Geologi bersama dengan terbentuknya Badan Geologi sebagai Unit Eselon I yang ada di lingkungan Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. Untuk menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik Museum Geologi dibentuk 2 seksi dan 1 sub bagian yaitu Seksi Peragaan dan Seksi Dokumentasi serta Subbag Tatausaha. Guna lebih mengoptimalkan perannya sebagai lembaga yang memasyarakatkan ilmu geologi, Museum Geologi juga mengadakan kegiatan antara lain seperti penyuluhan, pameran, seminar serta kegiatansurvei lapangan untuk pengembangan peragaan dan dokumentasi koleksi.

Kamis, 05 Juli 2012

SEJARAH MUSEUM BANK INDONESIA


Keberadaan Museum BankIndonesia dimaksudkan untuk memberikan informasi kepada masyarakat tentang peran Bank Indonesia sebagai bank sentral dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Informasi yang diberikan termasuk pemahaman secara objektif tentang latar belakang serta dampak kebijakan-kebijakan yang diambil BankIndonesia. Pemberian informasi dilakukan melalui dioarama, papan informasi, film, maupun benda koleksi yang ada didalam Museum Bank Indonesia.
Sejarah Museum Bank Indonesia
Berdirinya Museum BankIndonesia dilandasi keinginan pihak Bank Indonesia memberikan pengetahuan yang memadai kepada masyarakat tentang peran Bank Indonesia bagi bangsa Indonesia dan dukungan terhadap pemerintah DKI Jakarta dalam pengembangan kawasan kota tua menjadi daerah tujuan wisata, yang mana Bank Indonesia memiliki bangunan yang terletak pada kawasan kota tua dan telah ditetapkan sebagai cagar budaya. Gagasan lainnya yang mengilhami berdirinya Museum Bank Indonesia adalah museum bank sentral negara – negara di dunia.
Sejarah Gedung Museum Bank Indonesia
Gedung Museum merupakan bekas rumah sakit bernama Binnen Hospital. De Javasche Bank (DJB) menggunakan gedung sejak tanggal 08 April 1828. Tahun 1910, De Javasche Bank (DJB) membangun kembali gedung dengan lima tahap pembangunan yang perancangan bangunan dilakukan oleh Biro Arsitek Ed. Cuypers & Hulswit yang kemudian berubah menjadi Architecten & Ingenieursbureau Fermont-Cuypers.
Tahun 1910 pembangunan tahap pertama dimulai dan selesai pada tahun 1912, bangunan gedung bergaya arsitektur neoklasik Eropa yang terletak di sepanjang jalan Binneninieuwpoorstraat atau sekarang dikenal dengan Jalan Pintu Besar Utara.
Tahun 1922 pembangunan tahap kedua dimulai dengan menambah beberapa ruangan baru seperti rumah penjaga gedung (concierge), ruang simpan barang berharga (kluis), ruang pertemuan besar (ruang hijau), ruang arsip, garasi, dan ruangan lainnya.
Tahun 1924 pembangunan tahap ketiga dilakukan. Pembangunan tahap ketiga merupakan perluasan dari tahap sebelumnya dengan membangun sebuah unit di bagian belakang sepanjang Kali Besar menggantikan bangunan tua bekas rumah sakit. Dibuat juga bangunan di sepanjang Javabankstraat atau sekarang dikenal dengan jalan Bank, yang bertemu dengan bangunan tahap pertama di sisi utara. Bangunan yang baru dibangun ini memiliki kaca patri, dengan ragam hias berupa komoditas perdagangan pada masa Hindia Belanda dan dewa-dewi Yunani yang indah.
Tahun 1933 pembangunan tahap keempat dilaksanakan memenuhi kebutuhan ruang hasanah yang lebih luas dan ruang efek-efek. Dalam pembangunan tahap keempat, Biro Arsitek Fermont-Cuypers mendesain beberapa unit tambahan yaitu beberapa kluis baru yang ditempatkan pada perpanjangan bangunan di sisi Binneninieuwpoorstraat (Jalan Pintu Besar Utara). Pembanguan termasuk renovasi yang dilakukan pada bagian depan disisi jalan yang sama dengan gaya yang lebih sederhana.
Tahun 1935 pembangunan tahap kelima dilakukan dan diresmikan pada tanggal 12 Juni 1937. Tujuan pembangunan tahap kelima untuk memodernisasi arsitektur pembangunan tahap – tahap sebelumnya. Perubahan yang dilakukan diantaranya menggantikan dua pintu gerbang sebelumnya menjadi satu pintu untuk keluar-masuk. Perubahan yang lainnya seperti menghilangkan kubah yang sebelumnya menghiasi atap gedung bangunan. Setelah pembangunan ini, tidak banyak lagi perubahan yang dilakukan terhadap gedung.
Koleksi Museum Bank Indonesia
Koleksi Museum Bank Indonesia terdiri dari koleksi uang – uang logam dan kertas. koleksi film seperti pengerahan dana masyarakat 1953 – 1959, nasionalisasi bank-bank Belanda, pengedaran uang 1953 – 1959, penyelenggaraan kliring hingga 1959, dewan moneter menurut UU No. 11/1953, sistem kebijakan devisa 1953 – 1959. koleksi benda perbankan seperti mesin hitung Ontel REMINGTON 77, mesin tik ROYAL, khazanah harian LIPS, lemari brankas LIPS, ruang brankas (pintu besi) arsek, mesin PTTB tanda bintang RUHAAK, ukiran kayu dengan pepatah Belanda, alat pelubang kupon/deviden, timbangan emas, dan loleksi lainnya.
Fasilitas museum Bank Indonesia
Selain berbagai koleksi yang dimiliki oleh Museum Bank Indonesia, terdapat fasilitas seperti ruang penitipan barang, pusat informasi tentang Bank Indonesia, ruang auditorium, kios buku dan cenderamata, banking expo, ruang serbaguna, café museum, fine Dining restaurant, perpustakaan, ruang ibadah (Masjid).
Lokasi dan Jam Buka
Alamat : Jl. Pintu Besar Utara No. 3 Jakarta Barat
Telp : (6221) 2600158 Ext 8111, 8102, 8100
Jam buka
  • Selasa s.d Kamis : 08.30 – 14.30 Wib
  • Jumat : 08.30 – 11.00 Wib
  • Sabtu s.d Minggu : 00.09 – 16.00 Wib
  • Senin atau hari besar : Tutup
Tips untuk Museum Bank Indonesia
  • Bila selama ini anda kurang menyukai berkunjung ke museum maka mencoba berkunjung ke Museum Bank Indonesia patut untuk dicoba, Hal ini karena Museum Bank Indonesiamemiliki bererapa koleksi unik seperti Uang Kampua dari kerajaan Buton, Sulawesi Tenggara. Uang Kampua terbuat dari anyaman yang dilakukan oleh putri raja Buton daribahan benang. Satuan uang Kampua selebar telapak tangan raja Buton dan dihargai sama dengan satu butir telur.
  • Sebelum memasuki ruang pamer Museum BankIndonesia, pengunjung terlebih dahulu melewati ruang peralihan atau ruangan multimedia interaktif. Terdapat proyektor khusus yang menampilkan kepingan uang logam melayang-layang pada sebuah layar putih dan pengunjung dapat berinteraksi dengan menangkapi uang tersebut. Tidak diperkenankan memotret dengan menggunakan blitz pada ruangan ini.
  • Lokasi Museum Bank Indonesia terletak bersebelahan dengan Museum Bank Mandiri dan berhadapan dengan stasiun kota Jakarta (Beos) di kawasan Kota Tua Jakarta. Museum lainnya dan banguna menarik disekitar lokasi museum seperti, Museum Sejarah Jakarta, Museum Wayang, Museum Seni Rupa dan Keramik, Batavia Café, Toko Merah, Jembatan Kota Intan, Hotel Batavia, Museum Bahari, Menara Syahbandar, Pelabuhan Sunda Kelapa.
  • Untuk mengunjungi Museum Bank Indonesia dapat menggunakan taksi atau kendaraan umum seperti Busway. Bila menggunakan Busway, gunakan Busway Koridor satu yaitu jurusan Blok M – Kota. Anda turun di Stasiun Kota yang merupakan stasiun terakhir dari rute koridor satu. Letak Museum Bank Indonesia persis diseberang stasiun Kota.

SEJARAH MUSEUM INDONESIA


MI_bale_kambang.jpg
HALAMAN MUSEUM INDONESIA

Museum Indonesia dibangun atas prakarsa Ibu Tien Soeharto dan didirikan di atas tanah seluas 20.100 meter persegi dengan luas bangunan 7.000 meter persegi. Diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 20 April 1980.

Gedung utama dan bangunan pendukung lain yang berada di halaman museum menampilkan gaya arsitektur Bali yang dikembangkan dimana secara keseluruhan memperlihatkan wajah budaya Indonesia.

Pintu gerbang utama yang terdapat di sebelah selatan, berupa sebuah candi kurung yang biasa disebut Padu Raksa atau Kori Agung, sedangkan di sebelah barat terdapat gerbang kedua yang disebut Candi Bentar.

Di sekitar gedung utama terdapat bangunan pendukung dan patung-patung yang memiliki nama dan arti simbolis. Relief yang terdapat pada bagian depan gedung utama diambil dari cerita Ramayana yang berjudul Hanoman Duta.

Dihubungkan dengan cerita Ramayana, bangunan Museum Indonesia diibaratkan sebagai Gedung Muliawan dimana Sri Rama memberikan perintah kepada Hanoman (pasukan kera) untuk mencari istrinya (Dewi Shinta) yang diculik oleh Rahwana.

Jembatan yang menuju pintu masuk museum diibaratkan sebagai Jembatan Situbondo yang dibangun oleh pasukan kera untuk menghubungkan Ayodhya dengan Alengka Pura, dimana Dewi Shinta disembunyikan oleh Rahwana di Taman Argasoka.

MI_patung_sabung_ayam.jpg
KOLEKSI GALERI SENI DAN KRIYA

Gedung Museum Indonesia berarsitektur Bali tiga lantai dikembangkan dari filosofi tri hita karana, yang menjelaskan adanya tiga sumber kebahagiaan manusia, yakni hubungan dengan Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan alam.

Lantai 1 bertemakan Bhinneka Tunggal Ika menampilkan keanekaragaman dan kekayaan budaya bangsa Indonesia kepada pengunjung melalui koleksi lukisan Citra Indonesia, pakaian pengantin, pakaian adat, alat musik tradisional, maupun wayang yang berasal dari seluruh Indonesia.

Lantai II berjudul Manusia dan Lingkungan. Memperagakan koleksi-koleksi yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari seperti upacara daur hidup mulai dari upacara nujuh bulan, upacara turun tanah, khitanan, potong gigi hingga upacara penobatan datuk. Miniatur rumah tradisional, kamar pengantin dari Palembang, ruang tengah rumah Jawa Tengah, dapur Batak, alat berburu, alat pertanian, alat rumah tangga, serta alat transportasi darat dan air.

Lantai III berjudul Seni dan Kriya. Di sini dipamerkan benda-benda seni hasil karya bangsa Indonesia dalam bentuk kain tenun ikat dan songket, batik, kerajinan perak, kuningan, tembaga, kayu, dan keramik. Di samping itu dipamerkan juga berbagai jenis perhiasan, senjata tajam dan juga mata uang logam dan kertas yang pernah beredar di Indonesia. Pada bagian tengah terdapat koleksi besar yang disebut Pohon Hayat atau Pohon Kehidupan yang terbuat dari tembaga dengan ukuran tinggi 8 meter dan berdiameter 4 meter, lambang alam semesta yang mengandung unsur udara, air, angin, tanah, dan api.

Museum juga dilengkapi fasilitas Bale Panjang, Bale Bundar, dan bangunan Soko Tujuh yang dapat disewa oleh masyarakat umum untuk keperluan gathering, pesta pernikahan, seminar, pameran atau pun pertemuan

Sumber: Brosur 'Museum Indonesia' dan 'Jelajah Misteri Peradaban Indonesia'

Alamat:
MUSEUM INDONESIA
Taman Mini Indonesia Indah
Jakarta 13560

Telp. 021 840 9246
Fax. 021 840 9213

http://museumindonesia.webs.com

Jam Kunjungan:
Senin-Minggu 08.00-16.00

Tiket:Pengunjung Rp 5.000
Kamera Rp 5.000

SEJARAH MUSEUM SATRIA MANDALA


sm_diorama.jpg
MUSEUM SATRIAMANDALA
Sejarah perjuangan bangsa Indonesia dalam rangka merebut dan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) memakan waktu yang cukup panjang dengan pengorbanan jiwa dan raga maupun harta benda yang tak ternilai harganya. Perjuangan bangsa Indonesia dengan TNI sebagai intinya, berjuang secara bahu membahu dalam suasana kebersamaan. Dalam perjalanan sejarah dapat disarikan bahwa sejarah perjuangan nasional termasuk didalam sejarah TNI mempunyai peran penting dalam meningkatkan jiwa dan semangat serta memperkuat jati diri bangsa dalam mencapai tujuan nasional. Karena dengan belajar sejarah masyarakat bangsa diharapkan mampu bersikap serta bertindak arif dan bijaksana dalam menghadapi masa depan. Oleh karenanya minat prajurit dan masyarakat untuk memahami dan menempatkan kehidupan berbangsa dan bernegara senantiasa harus ditumbuhkembangkan.
Museum-museum, monumen, dan perpustakaan di lingkungan Pusjarah TNI, menyajikan peninggalan sejarah perjuangan bangsa Indonesia, khususnya sejarah perjuangan TNI dalam merebut, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan melalui diorama-diorama. Diantaranya diorama yang menggambarkan tentang kejayaan Nusantara dan cita-cita mempersatukan bangsa tersaji di Museum Keprajuritan Indonesia. Sedangkan diorama-diorama yang terdapat di Museum Satriamandala menggambarkan tentang sejarah kelahiran Tentara Nasional Indonesia (TNI). Yang di dalamnya terdapat Gedung Waspada Purbawisesa yang menyajikan diorama yang menggambarkan perjuangan TNI bersama-sama rakyat dalam menumpas gerombolan separatis DI/TII. Selanjutnya penyajian diorama tentang peristiwa pemberontakan G30S/PKI terhadap NKRI terdapat di Monumen Pancasila Sakti. Selain itu koleksi-koleksi sumber tertulis, seperti buku-buku dan majalah-majalah yang berkaitan dengan sejarah perjuangan TNI tersedia di Perpustakaan TNI.
Melalui museum-museum, monumen, dan perpustakaan, masyarakat aan memahami perjuangan bangsa Indonesia khususnya sejarah perjuangan TNI dan sekaligus menumbuhkan motivasi untuk meneladani semangat juang para pahlawan bangsa.

sm_ruang_senjata.jpg
RUANG SENJATA
Museum Satriamandala terletak di Jalan Jenderal Gatot Subroto no.14, Jakarta Selatan. Gedung museum ini sebelumnya dikenal sebagai Wisma Yaso yaitu tempat kediaman Ratna Sari Dewi Soekarno dan tempat Bung Karno disemayamkan sebelum dimakamkan di Blitar, Jawa Timur.
Di museum ini tersimpan berbagai benda sejarah yang berkaitan dengan perjuangan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dari tahun 1945 sampai sekarang, seperti aneka senjata berat maupun ringan, atribut ketentaraan, panji-panji dan lambang-lambang di lingkungan TNI, kendaraan perang seperti tank dan panser, berbagai jenis pesawat terbang peninggalan masa lalu. Satu diantaranya adalah pesawat Cureng yang pernah diterbangkan oleh Agustinus Adisutjipto serta tandu yang dipergunakan Panglima Besar Jenderal Sudriman saat bergerilya melawan penjajah.
Di dalam museum terdapat 74 diorama yang menggambarkan peranan TNI dalam membela dan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Satu diantaranya adalah diorama yang menggambarkan tentang Pertempuran Surabaya pada tanggal 10 November 1945. Masih dalam kompleks Museum Satriamandala terdapat Gedung Waspada Purbawisesa menyajikan diorama yang menggambarkan perjuangan TNI bersama-sama rakyat menumpas gerombolan separatis DI/TII di Jawa Barat, Jawa Tengah, Aceh, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi pada tahun 60-an.
Selain diorama, dipamerkan pula dokumen, peta operasi, dan benda-benda relik lainnya. Fasilitas lain di museum ini adalah Taman Bacaan Anak, kios cenderamata, kantin, serta gedung serbaguna yang berkapasitas 600 kursi untuk berbagai kegiatan dan pertemuan.
Sumber: Brosur 'Profil Museum, Monumen, dan Perpustakaan PUSJARAH TNI'

Alamat:
MUSEUM SATRIAMANDALA
Jl. Gatot Subroto no.14
Jakarta 12710

Telp. 021-522 7946

http://www.sejarahtni.mil.id

Jam Kunjungan:
Selasa-Minggu 09.00-14.30
Senin dan hari besar tutup

Tiket:
Rp 2.500


SEJARAH MUSEUM SEJARAH NASIONAL


msn_gajahmada.jpg

GAJAHMADA DI PELATARAN CAWAN
TUGU NASIONAL

Dasar dan Tujuan Pembangunan Monumen Naisonal
Negara Kesatuan Republik Indonesia yang memiliki wilayah dari Sabang sampai dengan Merauke, diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945 sebagai hasil perjuangan kemerdekaan rakyat Indonesia dari penjajahan selama lebih kurang 350 tahun.

Untuk mengenang dan melestarikan kebesaran perjuangan bangsa Indonesia yang dikenal dengan Revolusi Kemerdekaan Rakyat Indonesia 17 Agustus 1945 dan untuk membangkitkan inspirasi dan semangat patriotisme bagi generasi sekarang dan generasi masa mendatang, maka dibangunlah suatu tugu peringatan yang kemudian dikenal sebagai Tugu Monumen Nasional (Monas).

Pembangunan Tugu Monumen Nasional berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 214 Tahun 1959 tanggal 30 Agustus 1959 tentang Pembentukan Panitia Monumen Nasional yang diketuai oleh Kolonel Umar Wirahadikusumah, Komandan KMKB Jakarta Raya.

Pembangunan Tugu Monumen Nasional baru terwujud ketika Republik Indonesia genap berusia dua windu atas dasar gagasan Presiden Republik Indonesia Pertama Ir.Soekarno, dan pemancangan tiang pertama sebagai awal pembangunan Tugu Monumen Nasional dilaksanakan pada tanggal 17 Agustus 1961.

Rancang bangun Tugu Monumen Nasional dibuat oleh arsitek terkenal Indonesia yaitu Soedarsono dan penasehat konstruksi adalah Prof.Dr.Ir.Roosseno.

Pembangunan Tugu Monumen Nasional dibiayai sebagian besar dari sumbangan masyarakat Indonesia secara gotong-royong dan mulai dibuka untuk umum pada tanggal 18 Maret 1972 berdasarkan Keputusan Gubernur KDKI Jakarta Nomor Cb.11/1/57/72.

Ciri Khas Tugu Monumen Nasional
Arsitektur Tugu Monumen Nasional dan dimensinya penuh mengandung lambang khas budaya bangsa Indonesia. Bentuk tugu yang menjulang tinggi melambangkan lingga (alu/antan), sedangkan pelataran cawan melambangkan yoni (lumpang). Alu dan lumpang merupakan alat rumah tangga yang terdapat hampir di setiap rumah pribumi Indonesia. (Note: mengapa dianggap perlu pencantuman kata 'pribumi')

Lingga dan yoni melambangkan positif dan negatif, seperti lelaki dan perempuan, siang dan malam, air dan api, langit dan bumi sebagai lambang dari alam yang abadi.

Di pelataran puncak tugu, api nan tak kunjung padam, melambangkan tekad bangsa Indonesia untuk berjuang yang tidak akan pernah surut sepanjang masa. Tinggi pelataran cawan 17 meter dan tinggi ruang Museum Sejarah 8 meter, luas pelataran cawan yang berbentuk bujur sangkar berukuran 45 meter X 45 meter merupakan pelestarian angka keramat Proklamasi Kemerdekaan RI 17-8-1945.

Bagian-bagian Utama Tugu Monumen Nasional
Ruang Museum Sejarah

Ruang Museum Sejarah terletak 3 meter di bawah permukaan halaman Tugu Monumen Nasional dengan ukuran luas 80X80 meter persegi. Dinding, tiang, dan lantai secara keseluruhan berlapiskan marmer.
Di ruang Museum Sejarah terdapat 51 jendela peragaan (diorama) yang mengabadikan peristiwa sejarah sejak zaman kehidupan nenek moyang bangsa Indonesia, perjuangan mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan bangsa Indonesia, hingga masa pembangunan Orde Baru.

Ruang Kemerdekaan
Ruang Kemerdekaan berbentuk amfiteater yang terletak di dalam Cawan Tugu Monumen Nasional. Di dalamnya terdapat empat atribut kemerdekaan Republik Indonesia; Peta Kepulauan Negara Republik Indonesia, Bendera Sang Saka Merah Putih, Lambang Negara Bhinneka Tunggal Ika, dan Pintu Gapura yang berisi Naskah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. (Note: Bendera Sang Saka Merah Putih disimpan di Istana Merdeka, yaitu istana yang menghadap Monas)

Pelataran Puncak
Pelataran Puncak Tugu Monumen Nasional terletak pada ketinggian 115 meter dari halaman Tugu Monumen Nasional. Dengan elevator tunggal berkapasitas maksimum 11 orang pengunjung dapat mencapai Pelataran Puncak yang luasnya 11X11 meter persegi, dan dapat menampung sebanyak 50 orang. Di pelataran ini, pengunjung dapat menikmat pemandangan seluruh penjuru kota Jakarta. Di sekeliling rangka elevator di dalam badan Tugu, terdapat tangga darurat yang terbuat dari besi.

Lidah Api Kemerdekaan
Lidah Api di Pelataran Puncak dibuat dari perunggu seberat 14,5 ton dengan tinggi 14 meter dan berdiameter 6 meter, terdiri dari 77 bagian yang disatukan. Seluruh permukaan Lidah Api berlapis emas (gold leaf) seberat lebih kurang 50 kg. Ketinggian dari halaman Tugu Monumen Nasional sampai dengan puncak Lidah Api adalah 132 meter.

Sumber: Brosur 'Monumen Nasional' (Dinas Kebudayaan dan Permuseuman, Provinsi DKI Jakarta, Unit Pengelola Monumen Nasional)


Alamat:
MONUMEN NASIONAL (MONAS)
Jalan Silang Monas
Jakarta
Telp. 021-344 7733, 351 4333, 384 2777
Fax. 021-344 7733

Jam Kunjungan:
Senin-Minggu 08.30-17.00
Libur buka

Tiket:
Dewasa Rp 2.500,00 (Pelataran Cawan), Rp 7.500,00 (Pelataran Puncak)
Mahasiswa/Anak-anak Rp 1.000,00 (Pelataran Cawan), Rp 3.500,00 (Pelataran Puncak)



 

 

SEJARAH MUSEUM KERAMIK DAN KESENIAN


keramik_perahu_roh.jpg
'PERAHU ROH'
SEJARAH GEDUNG
Gedung Museum Seni Rupa dan Keramik ini dibangun pada tahun 1870. Sebagai Lembaga Peradilan tertinggi Belanda (Raad van Justitie), kemudian pada masa pendudukan Jepang dan perjuangan kemerdekaan Indonesia gedung ini dijadikan sebagai asrama militer. Selanjutnya pada tahun 1967 digunakan sebagai Kantor Walikota Jakarta.
Pada tahun 1968 hingga 1975 gedung ini pernah digunakan sebagai Kantor Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta. Pada tanggal 20 Agustus 1976 diresmikan sebagai Gedung Balai Seni Rupa oleh Presiden Soeharto. Dan di gedung ini pula terdapat Museum Keramik yang diresmikan oleh Bapak Ali Sadikin (Gubernur DKI Jakarta) pada tanggal 10 Juni 1977, kemudian pada tahun 1990 sampai sekarang menjadi Museum Seni Rupa dan Keramik.

keramik_galeri.jpg
GALERI LUKISAN
KOLEKSI SENI RUPA
Museum ini memiliki 500-an karya seni rupa terdiri dari berbagai bahan dan teknik yang berbeda seperti patung, totem kayu, grafis, sketsa, dan batik lukis. Diantara koleksi-koleksi tersebut ada beberapa koleksi unggulan dan amat penting bagi sejarah seni rupa di Indonesia, antara lain lukisan yang berjudul ‘Pengantin Revolusi’ karya Hendra Gunawan, ‘Bupati Cianjur’ karya Raden Saleh, ‘Ibu Menyusui’ karya Dullah, ‘Seiko’ karya S.Sudjojono, dan ‘Potret Diri’ karya Affandi.
Patung yang bercirikan klasik tradisional dari Bali, totem kayu yang magis dan simbolis karya I Wayan Tjokot dan keluarga besarnya. Totem dan patung kayu karya para seniman modern, antara lain G.Sidharta, Oesman Effendi, disusul karya-karya ciptaan seniman lulusan akademis, misalnya Popo Iskandar, Achmad Sadali, Srihadi S, Fajar Sidik, Kusnadi, Rusli, Nashar, Zaini, Amang Rahman, Suparto, Irsam, Mulyadi W, Abas Alibasyah, Amri Yahya, AS Budiman, Barli, Sudjana Kerton, dan banyak seniman dari berbagai daerah.

KOLEKSI KERAMIK
Koleksi Keramik di museum ini jumlahnya cukup banyak, terdiri dari keramik lokal dan keramik asing. Keramik lokal berasal dari sentra industri daerah antara lain Aceh, Medan, Palembang, Lampung, Jakarta, Bandung, Purwakarta, Yogyakarta, Malang, Bali, Lombok dan lain-lain.
Museum ini juga memiliki keramik dari Majapahit abad ke-14 yang menunjukkan ciri keistimewaan yang indah dan bernilai sejarah yang mempunyai keragaman bentuk serta fungsi. Keramik asing meliputi berbagai bentuk, ciri, karakteristik, fungsi dan gaya berasal dari China, Jepang, Thailand, Eropa. Terbanyak dari China terutama pada masa Dinasti MIng dan Ching.

PERPUSTAKAAN
Museum Seni Rupa dan Keramik dilengkapi sebuah perpustakaan yang memiliki buku-buku seni rupa dan keramik yang bisa dijadikan panduan tentang seni rupa.

keramik_beranda.jpg
MUSEUM SENI RUPA DAN KERAMIK
STUDIO GERABAH
Museum Seni Rupa dan Keramik juga memiliki tempat pelatihan, membuat gerabah (dibuka untuk pelajar dan umum), mulai dari teknik pinching (pijit), cetak dan roda putar. Disedikan pula oven untuk pembakaran gerabah.

TOKO CINDERA MATA
Museum Seni Rupa dan Keramik memiliki souvenir yang spesifik untuk pengunjung. Seperti kartu pos, buku seni rupa, kerajinan, sketsa, lukisan, keramik lucu, dll.

FASILITAS GEDUNG
Terdiri dari ruang pertemuan/aula, ruang terbuka/plaza serta taman yang dapat dimanfaatkan untuk acara-acara pameran temporer, pernikahan, seminar, lomba, dll.

KEGIATAN
Kegiatan yang diselenggarakan Museum Seni Rupa dan Keramik setiap tahunnya adalah:
  1. Penyuluhan permuseuman
  2. Pameran temporer
  3. Partisipasi kegiatan diluar museum

FASILITAS UMUM
Museum Seni Rupa dan Keramik juga dilengkapi dengan fasilitas umum berupa musholla, lahan parkir yang cukup luas serta toilet.

keramik_terakota.jpg
TERAKOTA MAJAPAHIT
VISI DAN MISI
VISI: Menjadikan Museum Seni Rupa dan Keramik sebagai pusat pelestarian seni rupa Indonesia dan sebagai tujuan kunjungan wisata seni dan budaya yang bertaraf internasional.
MISI: Meningkatkan sumber daya manusia, meningkatkan pelayanan pengunjung, melakukan penataan ruang koleksi secara berkala, meningkatkan kerjasama dengan mitra museum.

TUGAS POKOK DAN FUNGSI
TUGAS POKOK: Melayani masyarat dan pengunjung serta mengadakan, menyimpan, merawat, mengamankan, meneliti koleksi, memperagakan dan mengembangkan untuk kepentingan pendidikan, sejarah, kebudayaan, rekreasi, sosial dan ekonomi baik langsung maupun tidak langsung.
FUNGSI
  1. Penyusunan program dan rencana kegiatan operasional
  2. Pengusulan pengadaan koleksi serta sarananya
  3. Penyelenggaraan usaha-usaha, publikasi, pameran koleksi dan pemasaran
  4. Pelaksanaan pembuatan deskripsi dan registrasi koleksi
  5. Penyimpanan, penataan dan perawatan koleksi
  6. Penelitian koleksi
  7. Pemberian bimbingan dan pelayanan edukatif kultural kepada masyarakat
  8. Penyelenggaraan pengelolaan perpustakaan museum
  9. Pelayanan informasi tentang Seni Rupa dan Keramik
  10. Penyusunan kegiatan ketatausahaan

Sumber: Brosur Museum Seni Rupa dan Keramik

Alamat:
Museum Seni Rupa dan Keramik
(Taman Fatahillah)
Jl.Pos Kota no.2
Jakarta Barat
Jam Kunjungan:
Selasa-Minggu 09.00-15.00
Hari Senin dan hari besar tutup
Tiket:
Perorangan
Dewasa Rp 2.000,00
Mahasiswa Rp 1.000,00
Anak-anak/pelajar Rp 600,00
Rombongan (minimal 20 orang)
Dewasa Rp 1.500,00
Mahasiswa Rp 750,00
Anak-anak Rp 500,00



 

SEJARAH MUSEUM WAYANG


Pada awalnya museum wayang menempati sebuah gereja tua yang didirikan VOC pada tahun 1640 dengan nama “de oude Hollandsche Kerk” yang sampai pada tahun 1732 masih berfungsi sebagai tempat peribadatan penduduk sipil dan tentara belanda Belanda yang tinggal di Batavia. Pada tahun 1733 gereja tersebut mengalami perbaikan dan berganti nama menjadi “de nieuwe Hollandsche Kerk” sampai dengan tahun 1808.
Pada saat ini di halaman gereja itu dijadikan taman terbuka Museum wayang yang didalamnya terdapat taman kecil dengan prasasti-prasasti yang berjumlah 9 buah yang menampilkan nama-nama pejabat Belanda yang dimakamkan di halaman gereja tersebut. Salah satu dari prasasti tersebut tertulis nama Jan Pieterszoon Coen yang merupakan gubernur jendral yang berhasil menguasai kota Jayakarta pada thun 1619.
Pada tahun 1908 terjadi gempa yang menyebabkan gereja belanda tersebut rusak dan setelah itu lokasi bekas gereja dibangunlah gedung yang nampak seperti sekarang.
Pada tahun 1912 bagian muka museum ini dibangun dengan gaya Noe Reinaissance dan pada tahun 1938 seluruh gedung dipugar dan disesuaikan dengan gaya rumah belanda pada zaman kompeni.
Sesuai dengan besluit pemerintah Hindia Belanda tertanggal 14 Agustus 1936 ditetapkanlah gedung berserta tanahnya menjadi monumen.
Selanjutnya dibeli oleh Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen yaitu lembaga independent yang didirikan untuk tujuan memajukan penelitian dalam bidang seni dan ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang-bidang ilmu biologi, fisika, arkeologi, kesusastraan, etnologi dan sejarah, serta menerbitkan hasil penelitian.
Pada tahun 1937 oleh lembaga tersebut gedung tersebut diserahkan kepada Stichting oud Batavia dan kemudian dijadikan museum dengan nama “de oude Bataviasche Museum” atau “museum Batavia lama”
Selama pendudukan Jepang dan revolusi kemerdekaan RI, museum tersebut tidak terawat dan pada tahun 1957 diserahkan kepada Lembaga kebudayaan Indonesia dan diganti nama menjadi “Museum Jakarta Lama”
Pada tanggal 1 Agustus 1960 namanya disingkat menjadi “Museum Jakarta”. Sejak kepindahan Museum Jakarta ke Gedung Stadhuis maka gedung ini dijadikan Museum wayang.