SELAMAT DATANG PEMBUKA

HAI TEMAN-TEMAN NAMAKU NAUFAL, NAMA LENGKAPKU NAUFAL RAMADHAN SETIAWAN, AKU MEMBUAT BLOG INI UNTUK MENDIDIK, INSYALLAH MENDIDIK BANGSA INDOENESIA. AKU AKAN MEMASUKKAN SEJARAH-SEJARAH MUSEUM INDONESIA,TENTANG BIOLOGI,FISIKA DAN LAINNYA. TEMAN-TEMAN YANG MEMBUKA BLOG INI TOLONG KLIK LIKE YA........... SUPAYA BLOG INI BISA JAYA SEPERTI NEGARA INDONESIA INI.
TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA TULISAN INI,SEKALI LAGI TERIMA KASIH.ASSALAMUALAIKUM.WR.WB

Jumat, 06 Juli 2012

SEJARAH MUSEUM ALAM BANDUNG

Kota Bandung menjelang dua abad. 25 September tahun ini usianya genap ke-198. Apakah warga Bandung bisa mengetahui dengan pasti landasan apa tanggal tersebut dijadikan hari jadi Kota Bandung? Saya yakin, jika disurvei, lebih dari setengah penduduk kota akan menjawab tidak tahu.
Ketidakpahaman penduduk Bandung akan hari jadi kotanya rasanya wajar saja jika tidak terdapat sarana yang dapat membuat warga kota mengetahuinya. Adakah satu tanda di pelosok kota yang mengingatkan itu? Kilometer Nol di Jalan Asia Afrika pun hanya menceritakan mengapa di titik tersebut ditentukan awal pengukuran jarak dari Kota Bandung, tidak sebagai pengingat lahirnya sebuah kota. Hampir dua ratus tahun Kota Bandung tumbuh berkembang, kenangannya seolah-olah hilang tererosi dari benak warga kota, seperti batu basalt di Curug Dago yang tergerus arus Cikapundung.
Ketika saya masih bocah tumbuh di Bandung, masih terbayang bagaimana ramainya Situ Aksan, satu-satunya danau yang masih tersisa di Kota Bandung pada 1972, sebagai tempat rekreasi favorit. Itulah pengingat terakhir bahwa Bandung pernah menjadi danau luas di zaman purbakala sebelum situ itu diurug menjadi perumahan di awal 1980-an. Masih juga terbayang ramainya alun-alun Bandung (yang benar-benar alun-alun dengan lapangan luas) oleh ledakan petasan selama Ramadhan. Masih terbayang asyiknya naik delman sekeluarga mengunjungi rumah nenek dari Jalan Pasundan ke Jalan Garuda (sekarang Jalan Nurtanio) saat Lebaran tiba. Itulah secuil kenangan indah warga kota akan perjalanan kotanya. Kenangan ini akan terpateri lebih panjang bagi warga senior yang lebih dahulu lahir atau bermukim.
Kenangan warga kota seperti itu akan hilang dengan sendirinya seiring wafatnya para warga kota jika tidak segera dilestarikan, misalnya dalam bentuk buku seperti buku-buku tentang Bandoeng tempo doeloe oleh almarhum Haryoto Kunto. Sungguh sangat besar jasa almarhum yang membuat perjalanan kota ini terabadikan untuk dapat dikenang oleh generasi ke generasi berikutnya.
Perlunya Museum Kota
Di luar Bandung, kenangan akan sebuah kota terpateri ke Niigata dan kota-kota di Jepang saat tugas belajar. Masyarakat Jepang adalah masyarakat yang selalu menghargai para leluhurnya, termasuk “leluhur alam”. Bagi mereka semua mahluk mempunyai jiwa yang patut untuk dikenang. Penghargaan itu salah satunya diwujudkan dalam bentuk museum.
Di Jepang, museum tidak melulu sebuah bangunan. Kenangan akan riwayat sebuah jembatan yang melintas Sungai Shinano di Niigata misalnya cukup diwujudkan dalam panel-panel di pojok sisi jembatan. Pembangunan Terowongan Shimizu yang menembus Pegunungan Alpen Jepang menghubungkan Tokyo – Niigata diabadikan pada bangunan museum kecil di tempat istirahat di jalan tol sebelum para pengemudi memasuki terowongan sepanjang sebelas kilometer itu.
Museum-museum tematis di pelosok kota kemudian dikompilasi pada museum kota. Isinya adalah perjalanan panjang sejarah alam dimulai sejak zaman-zaman geologis ketika kota masih berupa alam liar dengan para penghuni sebelum manusia. Bahkan kota-kota kecil setingkat kecamatan pun tidak mau kalah untuk menampilkan sejarah alam kotanya. Ada saja warga masyarakat yang mengunjungi museum kota hanya untuk tercenung memandang tinggalan-tinggalan berupa fosil, artefak, foto, maket atau apapun yang menjadi ciri perkembangan kota dari zaman ke zaman.
Bagi wisatawan, museum kota merupakan pusat informasi wisata kota. Dalam kunjungan singkat wisatawan yang kebetulan datang ke suatu kota bukan dalam paket wisata, mereka bisa menentukan destinasi mana di dalam kota yang ingin dikunjungi dari informasi yang didapat di museum kota.
Kota Bandung dengan sejarahnya yang panjang pantas memiliki museum sejarah alam kota. Koleksi museum dan informasinya dapat terrentang sejak kota yang berada di Cekungan Bandung ini masih berupa laut hingga empat juta tahun yang lalu, menjadi daratan sejak dua juta tahun yang lalu, menjadi danau sejak 125.000 tahun yang lampau, sampai mengering sejak 16.000 tahun yang lalu.
Jejak-jejak permukiman purbakala ditemukan dengan data melimpah di perbukitan Dago Pakar. Alat-alat batu dari bahan obsidian tersebar berserakan di sekitar titik geodetik KQ380 menunjukkan betapa tingginya budaya leluhur masyarakat Bandung purba sekitar 6.000 tahun yang lalu. Mereka bahkan telah piawai membuat permukiman dengan parit-parit perlindungan. Sayang, bukti-bukti itu sekarang telah banyak digilas dan diratakan mesin-mesin buldoser untuk perumahan mewah dan vila-vila! Untungnya, bukti-bukti keberadaan sang arsitek purbakala ditemukan sebagai kerangka meringkuk di Situs Gua Pawon.
Dengan berlimpahnya peninggalan artefak purbakala di Bandung Utara itu, pada 1917 pernah tercetus ide Dr. W. Docters van Leeuwen untuk mendirikan Museum Alam Terbuka Sunda (Soenda Openlucht Museum). Namun Perang Dunia II mengubur cita-cita dokter Belanda itu. Apalagi sekarang ketika arus utama pembangunan kota diarahkan kepada manfaat ekonomi secara cepat. Satu contoh mengenaskan adalah situs tumpukan batu Pasir Panyandaan di utara terminal Cicaheum, yang anehnya, tanah di sekelilingnya telah dikuasai sebagai hak milik pribadi.
Daftar isi museum akan semakin panjang setelah secara resmi Kota Bandung didirikan oleh Bupati Wiranatakusumah II di bawah pemerintahan Gubernur Jenderal Daendels 1810. Seiring dengan 200 tahun peringatan Jalan Raya Pos Anyer-Panarukan pada 2008, Bandung mencatatkan dirinya sebagai bagian dari sejarah penting masa-masa kesengsaraan penjajahan itu.
Informasi sejarah kota akan semakin lengkap terkoleksi ketika Kota Bandung memasuki Abad ke-20. Mungkin di antaranya dimulai dari Situs Curug Dago yang memberi kebanggaan kita sebagai warga kota karena pernah dikunjungi raja besar Thailand, Raja Rama V, ketika 1902 membuat prasasti batu tulis. Batu tulis kedua dibuat oleh cucunya pada 1927. Lalu tentu ketika Bandung berada pada zaman keemasannya di 1920-1930.
Kota ini pun mencatat sejarah yang wangi saat Sang Proklamator Bung Karno tinggal dan berjuang di Bandung untuk kemerdekaan. Rumah Ibu Inggit di Ciateul, kampus ITB, Penjara Banceuy di Jalan Banceuy yang sekarang hanya menyisakan sel dan gardunya saja, Gedung Indonesia Menggugat, penjara Sukamiskin, serta karya-karya arsitektur Ir. Soekarno merupakan artefak perjalanan kota ini. Setelah Kemerdekaan Republik Indonesia, sejarah Kota Bandung tercatat dengan harum. Kita tentu tidak akan pernah lupa dengan peristiwa Bandung Lautan Api 1946 dan Konferensi Asia Afrika 1955.
Tentu saja, para wali kota Bandung (dan para Bupati Bandung sebelum jadi kota) harus menjadi kenangan yang terrekam di Museum Sejarah Alam Kota Bandung. Di tangan merekalah Kota Bandung dikembangkan, terlepas apakah bersifat positif atau negatif terhadap pertumbuhan sebuah kota.
Pada kesempatan dilantiknya Pak Dada dan pak Ayi sebagai Wali Kota Bandung dan wakil pilihan rakyat, sekaranglah saatnya menjelang Bandung Dua Abad, kesempatan emas untuk mencatatkan sejarah dengan tinta emas bagi Kota Bandung. Daripada membangun mal-mal dan factory outlet yang rasanya sudah jenuh, pe-er Walikota sekarang untuk masa depan Bandung yang lebih baik adalah bagaimana mewujudkan Bandung menjadi kota yang bermartabat, genah merenah tumaninah, hijau bersih berbunga. Ruang terbuka hijau yang sudah ada seperti Babakan Siliwangi jangan lagi digusur untuk konstruksi beton. Perbanyaklah taman kota. Dirikanlah Museum Kota. Insya Allah, nama Bapak berdua akan tercatat kelak di museum sejarah alam Kota Bandung dan akan dikenang warga Bandung nanti dengan perasaan kagum. Tentu saja kalau bapak berdua berhasil mewujudkan Bandung menjadi lebih baik. ***


SEJARAH MUSEUM AMERTA DIRGANTARA MANDALA LANUD SURYADARMA


Selintas  Museum
Gedung Museum Amerta Dirgantara Mandala lanud Suryadarma merupakan gedung peninggalan Belanda,  yang dibangun pada tahun 1917. Luas areal seluruhnya sekitar 9000 m2 .  Terdiri atas gedung museum, Hanggar Pesawat Terbang, Apron dan tempat parkir kendaraan. Museum ini berada di kawasan Pangkalan Udara TNI AU Suryadarma, kurang lebih 15 km barat pusat kota Subang.  Museum ini diresmikan oleh Marsekal TNI Ashadi Tjahyadi pada tanggal 10 April 1982 menempati gedung Hanggar C Lanud Suryadarma.
Gagasan pendirian museum ini berawal dari kemampuan dan hobi yang dimiliki oleh Marsda TNI Ramli Sumardi terhadap pesawat-pesawat tua, sehingga beliau mencetuskan gagasan kepada pimpinan TNI AU untuk mendirikan proyek “Repair and Maintenance” di bawah Yayasan Adi Upaya. Pada tanggal 10 Juni 1975 oleh Ketua Yayasan Adi Upaya Marsda TNI Soeryono gagasan tersebut diajukan kepada Pimpinan TNI AU, yang kemudian dikembangkan dengan adanya rencana mendirikan “Living Museum” (Museum Hidup) dengan maksud untuk menampung dan memelihara pesawat yang telah dihapus dari kekuatan TNI AU sehingga pesawat tersebut tetap dapat diterbangkan. Sebagai tindak lanjut, maka dikeluarkan Surat Perintah KASAU Nomor: Sprin/12/II/1978 tanggal 13 Februari 1978 yang menugaskan kepada tim untuk melaksanakan tugas-tugas kegiatan persiapan pendirian Museum di lanud Kalijati yang saat ini menjadi Lanud Suryadarma. Melalui Keputusan KASAU Nomor: Kep/19/IX/1979 tanggal 29 September 1979 tentang penyempurnaan Struktur Organisasi  Dinas Sejarah TNI AU maka terbentuk dan terwujudlah Museum Amerta Dirgantara Mandala.
Koleksi Museum   
Pesawat Terbang 21 buah yang terdiri dari aneka jenis, tertata rapi di ruang pesawat terbang dan tersedia pula pesawat terbang yang dapat dinaiki agar dapat menikmati dalam ruangannya.
Ruang pameran sejarah perkembangan Sekolah Penerbangan di Indonesia dari  awal hingga sekarang, berupa foto-foto dan benda-benda bernilai sejarah peninggalan Sekolah Penerbangan disusun secara siatematis kronologis.
Pesawat Terbang 21 buah yang terdiri dari aneka jenis, tertata rapi di ruang pesawat terbang dan tersedia pula pesawat terbang yang dapat dinaiki agar dapat menikmati dalam ruangannya.
Ruang pameran sejarah perkembangan Sekolah Penerbangan di Indonesia dari  awal hingga sekarang, berupa foto-foto dan benda-benda bernilai sejarah peninggalan Sekolah Penerbangan disusun secara siatematis kronologis, informasi dini kita dapatkan bagi yang bercita-cita menjadi penerbang.
 Alamat
Lokasi:  Di Kawasan Pangkalan TNI Angkatan Udara Suryadarma Kalijati, Jawa Barat

SEJARAH MUSEUM POS INDONESIA


Museum Pos Indonesia  terletak di kawasan Gedung Sate, namun Gedung ini secara adminstratif terletak di Jalan Cilaki No. 73, Kelurahan Cihapit, Kecamatan Bandung Wetan. Secara Geografis Museum Pos Indonesia berada pada koordinat 107º37'07,9" BT dan 06º54'05,4" LS, dan sekitar gedung kini telah banyak berdiri bangunan perkantoran, pemukiman, dan pertokoan. Untuk mencapainya relatif mudah melalui jalan raya dengan kondisi yang baik, menggunakan kendaraan pribadi roda 4 atau 2 ataupun menaiki kendaraan umum (bis/angkot) yang melewati kawasan ini relatif banyak. 
Museum ini dibangun masa Hindia-Belanda pada 27 Juli 1920 dengan nama Museum Pos, Telegraph dan Telepon (PTT) dan dibuka tahun 1931. Pada 19 Juni 1995 Museum berganti nama menjadi Museum Pos dan Giro disesuaikan dengan perusahaan yang menanganinya. Pada waktu Perusahaan berganti nama menjadi PT Pos Indonesia maka terjadi pula perubahan nama museum ini menjadi Museum Pos Indonesia. Museum memiliki luas gedung 700 m², dan berdiri tegak di atas lahan tanah seluas ±  706 m². Gedung Museum dibangun oleh Ir. J. Berger dari Landsgebouwdienst dengan gaya arsitektur Italia masa Renaissance. 
Pada masa revolusi dan perang kemerdekaan, keberadaan museum ini tidak mendapat perhatian sebagaimana mestinya, bahkan nyaris terlupakan. Kemudian baru tanggal 18 Desember 1980 Direksi Perum Pos dan Giro membentuk Panitia Persiapan Pendirian Museum Pos dan Giro untuk menghidupkan kembali museum. Menginggat banyaknya koleksi perangko, foto, peralatan pos yang bernilai sejarah yang perlu diketahui oleh masyarakat luas dan museum sebagai sarana pendidikan, informasi dan rekreasi untuk generasi muda dimasa sekarang dan mendatang. Tugas utama panitia tersebut adalah melakukan inventarisasi dan pengumpulan benda-benda bersejarah yang patut dijadikan sebagai koleksi museum. Pada 27 September 1983 bersamaan dengan hari bakti Postel ke-38 Museum ini secara resmi dibuka oleh Menteri Pariwisata Pos dan Telekomunikasi Acmad Tahir dan diberi nama Museum Pos dan Giro, sebagai museum untuk umum. 
Museum Pos dan Giro di Jawa Barat ini,  merupakan satu-satunya museum perangko yang koleksinya tidak lagi hanya sebatas pada perangko-perangko dari berbagai negara, tetapi telah dilengkapi dengan benda-benda pos bersejarah. Museum Pos dan Giro dapat dikembangkan sebagai objek wisata budaya, khusunya para filatelis (orang yang hobi mengumpulkan perangko) maupun masyarakat yang ingin meningkatkan wawasan sejarah perkembangan perangko.

SEJARAH MUSEUM GEOLOGI BANDUNG


Keberadaan Museum Geologi berkaitan erat dengan sejarah penyelidikan geologi dan tambang di wilayah Nusantara yang dimulai sejak pertengahan abad ke-17 oleh ahli geologi dari Eropa. Setelah di Eropa terjadi revolusi industri pada pertengahan abad ke-18, mereka sangat membutuhkan bahan tambang sebagai bahan dasar industri. Pemerintah Belanda sadar akan pentingnya penguasaan bahan galian di wilayah Nusantara. Dengan jalan itu diharapkan perkembangan industri di Negeri Belanda dapat ditunjang. Maka dibentuklahDienst van het Mijnwezen pada tahun 1850. Kelembagaan ini berganti nama jadi Dienst van den Mijnbouw pada tahun 1922, yang bertugas melakukan penyelidikan geologi dan sumberdaya mineral. Hasil penyelidikan yang berupa contoh-contoh batuan, mineral, fosil , laporan dan peta memerlukan tempat untuk penganalisaan dan penyimpanan, sehingga pada tahun 1928 Dienst van den Mijnbouw membangun gedung di Rembrandt Straat Bandung. Gedung tersebut pada awalnya bernama Geologisch Laboratorium yang kemudian juga disebut Geologisch Museum. Gedung Geologisch Laboratorium dirancang dengan gaya Art Deco oleh arsitek Ir. Menalda van Schouwenburg, dan dibangun selama 11 bulan dengan 300 pekerja dan menghabiskan dana 400 Gulden, mulai pertengahan tahun 1928 sampai diresmikannya pada tanggal 16 Mei 1929. Peresmian tersebut bertepatan dengan penyelenggaraan Konggres Ilmu Pengetahuan Pasifik ke-4 (Fourth Pacific Science Congress) di Bandung pada tanggal 18-24 Mei 1929.
museum1929
Foto Gedung Museum Geologi tahun 1929

peserta-kongres
Foto Peserta Kongres Ilmu Pengetahuan Asia Pasifik ke-IV

MASA PENJAJAHAN JEPANG

Sebagai akibat dari kekalahan pasukan Belanda dari pasukan Jepang pada perang dunia II, keberadaan Dienst van den Mijnbouw berakhir. Letjen. H. Ter Poorten (Panglima Tentara Sekutu di Hindia Belanda) atas nama Pemerintah Kolonial Belanda menyerahkan kekuasaan teritorial Indonesia kepada Letjen. H. Imamura (Panglima Tentara Jepang) pada tahun 1942. Penyerahan itu dilakukan di Kalijati, Subang. Dengan masuknya tentara Jepang ke Indonesia, Gedung Geologisch Laboratorium berpindah kepengurusannya dan diberi namaKOGYO ZIMUSHO dan setahun kemudian berganti nama CHISHITSU CHOSACHO.
Pada masa pendudukan Jepang, pasukan Jepang mendidik dan melatih para pemuda Indonesia untuk menjadi: PETA (Pembela Tanah Air) dan HEIHO (pasukan pembantu bala tentara Jepang pada Perang Dunia II). Laporan hasil kegiatan di masa itu tidak banyak yang ditemukan, karena banyak dokumen (termasuk laporan hasil penyelidikan) yang dibumihanguskan tatkala pasukan Jepang mengalami kekalahan di mana-mana pada awal tahun 1945.
MASA KEMERDEKAAN
Setelah Indonesia merdeka pada Tahun 1945, pengelolaan Museum Geologi berada dibawahPusat Djawatan Tambang dan Geologi (PDTG/1945-1950). Pada tanggal 19 September 1945, pasukan sekutu pimpinan Amerika Serikat dan Inggris yang diboncengi oleh Netherlands Indiës Civil Administration (NICA) tiba di Indonesia (mendarat di Tanjungpriuk, Jakarta). Di Bandung mereka berusaha menguasai kembali kantor PDTG yang sudah dikuasai oleh para pegawai Indonesia. Tekanan yang dilancarkan oleh pasukan Belanda memaksa kantor PDTG dipindahkan ke Jl. Braga No. 3 dan No. 8 Bandung pada tanggal 12 Desember 1945. Kepindahan kantor PDTG rupanya terdorong pula oleh gugurnya seorang pengemudi bernamaSakiman dalam rangka berjuang mempertahankan kantor PDTG . Pada waktu itu, Tentara Republik Indonesia Divisi III Siliwangi mendirikan Bagian Tambang, yang tenaganya diambil dari PDTG. Setelah kantor di Rembrandt Straat ditinggalkan oleh pegawai PDTG, pasukan Belanda pun di tempat itu mendirikan lagi kantor yang bernama Geologische Dienst. Di mana-mana terjadi pertempuran, maka sejak Desember 1945 sampai dengan Desember 1949, selama 4 tahun kantor PDTG terlunta-lunta pindah dari satu tempat ke tempat lain. Pemerintah Indonesia berusaha menyelamatkan dokumen - dokumen hasil penelitian geologi sehingga harus berpindah pindah tempat dari Bandung – Tasikmalaya - Solo – Magelang - Yogyakarta, baru pada Th 1950 kembali ke Bandung.
Daa_f_lasutlam usaha menyelamatkan dokumen - dokumen tersebut, pada tanggal 7 mei 1949, Kepala PUSAT JAWATAN TAMBANG DAN GEOLOGI,  Arie Frederik Lasut, diculik dan dibunuh tentara belanda dan gugur sebagai kusuma bangsa di Desa Pakem Yogyakarta.
Sekembalinya ke Bandung, Museum Geologi mulai mendapat perhatian dari pemerintah RI, terbukti pada tahun 1960 Museum Geologi dikunjung oleh Presiden pertama RI , Ir. Soekarno. Pengelolaan Museum Geologi yang tadinya dibawah PUSAT DJAWATAN TAMBANG DAN GEOLOGI (PDTG) berganti nama menjadi: Djawatan Pertambangan Republik Indonesia (1950-1952), Djawatan Geologi (1952-1956), Pusat Djawatan Geologi (1956-1957), Djawatan Geologi (1957-1963), Direktorat Geologi (1963-1978), Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi (1978 - 2005) , Pusat Survei Geologi mulai akhir tahun 2005 sampai sekarang.
Seiring dengan perkembangan jaman, pada tahun 1999 Museum Geologi mendapat bantuan dari Pemerintah Jepang senilai 754,5 juta yen untuk direnovasi. Setelah ditutup selama satu tahun, Museum Geologi dibuka kembali dan pembukaannya diresmikan pada tanggal 20 Agustus Tahun 2000 oleh Wakil Presiden RI waktu itu Ibu Megawati Soekarnoputri yang didampingi oleh Menteri Pertambangan dan Energi Bapak Susilo Bambang Yudhoyono.
Dengan penataan yang baru ini peragaan Museum Geologi terbagi menjadi 3 ruangan yang meliputi Sejarah Kehidupan, Geologi Indonesia serta Geologi untuk Kehidupan Manusia.Sedangkan untuk dokumentasi koleksi tersedia sarana penyimpan koleksi yang lebih memadai diharapkankan pengelolaan contoh koleksi di Museum Geologi lebih mudah diakses oleh pengguna baik peneliti maupun grup industri. Mulai tahun 2002 Museum Geologi melalui Kepmen ESDM Nomor: 1725 tahun 2002 statusnya menjadi Unit Pelaksana Teknis Museum Geologi dilingkungan Balitbang ESDM. Mulai akhir 2005 Museum Geologi berada dibawah Badan Geologi bersama dengan terbentuknya Badan Geologi sebagai Unit Eselon I yang ada di lingkungan Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. Untuk menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik Museum Geologi dibentuk 2 seksi dan 1 sub bagian yaitu Seksi Peragaan dan Seksi Dokumentasi serta Subbag Tatausaha. Guna lebih mengoptimalkan perannya sebagai lembaga yang memasyarakatkan ilmu geologi, Museum Geologi juga mengadakan kegiatan antara lain seperti penyuluhan, pameran, seminar serta kegiatansurvei lapangan untuk pengembangan peragaan dan dokumentasi koleksi.

Kamis, 05 Juli 2012

SEJARAH MUSEUM BANK INDONESIA


Keberadaan Museum BankIndonesia dimaksudkan untuk memberikan informasi kepada masyarakat tentang peran Bank Indonesia sebagai bank sentral dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Informasi yang diberikan termasuk pemahaman secara objektif tentang latar belakang serta dampak kebijakan-kebijakan yang diambil BankIndonesia. Pemberian informasi dilakukan melalui dioarama, papan informasi, film, maupun benda koleksi yang ada didalam Museum Bank Indonesia.
Sejarah Museum Bank Indonesia
Berdirinya Museum BankIndonesia dilandasi keinginan pihak Bank Indonesia memberikan pengetahuan yang memadai kepada masyarakat tentang peran Bank Indonesia bagi bangsa Indonesia dan dukungan terhadap pemerintah DKI Jakarta dalam pengembangan kawasan kota tua menjadi daerah tujuan wisata, yang mana Bank Indonesia memiliki bangunan yang terletak pada kawasan kota tua dan telah ditetapkan sebagai cagar budaya. Gagasan lainnya yang mengilhami berdirinya Museum Bank Indonesia adalah museum bank sentral negara – negara di dunia.
Sejarah Gedung Museum Bank Indonesia
Gedung Museum merupakan bekas rumah sakit bernama Binnen Hospital. De Javasche Bank (DJB) menggunakan gedung sejak tanggal 08 April 1828. Tahun 1910, De Javasche Bank (DJB) membangun kembali gedung dengan lima tahap pembangunan yang perancangan bangunan dilakukan oleh Biro Arsitek Ed. Cuypers & Hulswit yang kemudian berubah menjadi Architecten & Ingenieursbureau Fermont-Cuypers.
Tahun 1910 pembangunan tahap pertama dimulai dan selesai pada tahun 1912, bangunan gedung bergaya arsitektur neoklasik Eropa yang terletak di sepanjang jalan Binneninieuwpoorstraat atau sekarang dikenal dengan Jalan Pintu Besar Utara.
Tahun 1922 pembangunan tahap kedua dimulai dengan menambah beberapa ruangan baru seperti rumah penjaga gedung (concierge), ruang simpan barang berharga (kluis), ruang pertemuan besar (ruang hijau), ruang arsip, garasi, dan ruangan lainnya.
Tahun 1924 pembangunan tahap ketiga dilakukan. Pembangunan tahap ketiga merupakan perluasan dari tahap sebelumnya dengan membangun sebuah unit di bagian belakang sepanjang Kali Besar menggantikan bangunan tua bekas rumah sakit. Dibuat juga bangunan di sepanjang Javabankstraat atau sekarang dikenal dengan jalan Bank, yang bertemu dengan bangunan tahap pertama di sisi utara. Bangunan yang baru dibangun ini memiliki kaca patri, dengan ragam hias berupa komoditas perdagangan pada masa Hindia Belanda dan dewa-dewi Yunani yang indah.
Tahun 1933 pembangunan tahap keempat dilaksanakan memenuhi kebutuhan ruang hasanah yang lebih luas dan ruang efek-efek. Dalam pembangunan tahap keempat, Biro Arsitek Fermont-Cuypers mendesain beberapa unit tambahan yaitu beberapa kluis baru yang ditempatkan pada perpanjangan bangunan di sisi Binneninieuwpoorstraat (Jalan Pintu Besar Utara). Pembanguan termasuk renovasi yang dilakukan pada bagian depan disisi jalan yang sama dengan gaya yang lebih sederhana.
Tahun 1935 pembangunan tahap kelima dilakukan dan diresmikan pada tanggal 12 Juni 1937. Tujuan pembangunan tahap kelima untuk memodernisasi arsitektur pembangunan tahap – tahap sebelumnya. Perubahan yang dilakukan diantaranya menggantikan dua pintu gerbang sebelumnya menjadi satu pintu untuk keluar-masuk. Perubahan yang lainnya seperti menghilangkan kubah yang sebelumnya menghiasi atap gedung bangunan. Setelah pembangunan ini, tidak banyak lagi perubahan yang dilakukan terhadap gedung.
Koleksi Museum Bank Indonesia
Koleksi Museum Bank Indonesia terdiri dari koleksi uang – uang logam dan kertas. koleksi film seperti pengerahan dana masyarakat 1953 – 1959, nasionalisasi bank-bank Belanda, pengedaran uang 1953 – 1959, penyelenggaraan kliring hingga 1959, dewan moneter menurut UU No. 11/1953, sistem kebijakan devisa 1953 – 1959. koleksi benda perbankan seperti mesin hitung Ontel REMINGTON 77, mesin tik ROYAL, khazanah harian LIPS, lemari brankas LIPS, ruang brankas (pintu besi) arsek, mesin PTTB tanda bintang RUHAAK, ukiran kayu dengan pepatah Belanda, alat pelubang kupon/deviden, timbangan emas, dan loleksi lainnya.
Fasilitas museum Bank Indonesia
Selain berbagai koleksi yang dimiliki oleh Museum Bank Indonesia, terdapat fasilitas seperti ruang penitipan barang, pusat informasi tentang Bank Indonesia, ruang auditorium, kios buku dan cenderamata, banking expo, ruang serbaguna, café museum, fine Dining restaurant, perpustakaan, ruang ibadah (Masjid).
Lokasi dan Jam Buka
Alamat : Jl. Pintu Besar Utara No. 3 Jakarta Barat
Telp : (6221) 2600158 Ext 8111, 8102, 8100
Jam buka
  • Selasa s.d Kamis : 08.30 – 14.30 Wib
  • Jumat : 08.30 – 11.00 Wib
  • Sabtu s.d Minggu : 00.09 – 16.00 Wib
  • Senin atau hari besar : Tutup
Tips untuk Museum Bank Indonesia
  • Bila selama ini anda kurang menyukai berkunjung ke museum maka mencoba berkunjung ke Museum Bank Indonesia patut untuk dicoba, Hal ini karena Museum Bank Indonesiamemiliki bererapa koleksi unik seperti Uang Kampua dari kerajaan Buton, Sulawesi Tenggara. Uang Kampua terbuat dari anyaman yang dilakukan oleh putri raja Buton daribahan benang. Satuan uang Kampua selebar telapak tangan raja Buton dan dihargai sama dengan satu butir telur.
  • Sebelum memasuki ruang pamer Museum BankIndonesia, pengunjung terlebih dahulu melewati ruang peralihan atau ruangan multimedia interaktif. Terdapat proyektor khusus yang menampilkan kepingan uang logam melayang-layang pada sebuah layar putih dan pengunjung dapat berinteraksi dengan menangkapi uang tersebut. Tidak diperkenankan memotret dengan menggunakan blitz pada ruangan ini.
  • Lokasi Museum Bank Indonesia terletak bersebelahan dengan Museum Bank Mandiri dan berhadapan dengan stasiun kota Jakarta (Beos) di kawasan Kota Tua Jakarta. Museum lainnya dan banguna menarik disekitar lokasi museum seperti, Museum Sejarah Jakarta, Museum Wayang, Museum Seni Rupa dan Keramik, Batavia Café, Toko Merah, Jembatan Kota Intan, Hotel Batavia, Museum Bahari, Menara Syahbandar, Pelabuhan Sunda Kelapa.
  • Untuk mengunjungi Museum Bank Indonesia dapat menggunakan taksi atau kendaraan umum seperti Busway. Bila menggunakan Busway, gunakan Busway Koridor satu yaitu jurusan Blok M – Kota. Anda turun di Stasiun Kota yang merupakan stasiun terakhir dari rute koridor satu. Letak Museum Bank Indonesia persis diseberang stasiun Kota.

SEJARAH MUSEUM INDONESIA


MI_bale_kambang.jpg
HALAMAN MUSEUM INDONESIA

Museum Indonesia dibangun atas prakarsa Ibu Tien Soeharto dan didirikan di atas tanah seluas 20.100 meter persegi dengan luas bangunan 7.000 meter persegi. Diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 20 April 1980.

Gedung utama dan bangunan pendukung lain yang berada di halaman museum menampilkan gaya arsitektur Bali yang dikembangkan dimana secara keseluruhan memperlihatkan wajah budaya Indonesia.

Pintu gerbang utama yang terdapat di sebelah selatan, berupa sebuah candi kurung yang biasa disebut Padu Raksa atau Kori Agung, sedangkan di sebelah barat terdapat gerbang kedua yang disebut Candi Bentar.

Di sekitar gedung utama terdapat bangunan pendukung dan patung-patung yang memiliki nama dan arti simbolis. Relief yang terdapat pada bagian depan gedung utama diambil dari cerita Ramayana yang berjudul Hanoman Duta.

Dihubungkan dengan cerita Ramayana, bangunan Museum Indonesia diibaratkan sebagai Gedung Muliawan dimana Sri Rama memberikan perintah kepada Hanoman (pasukan kera) untuk mencari istrinya (Dewi Shinta) yang diculik oleh Rahwana.

Jembatan yang menuju pintu masuk museum diibaratkan sebagai Jembatan Situbondo yang dibangun oleh pasukan kera untuk menghubungkan Ayodhya dengan Alengka Pura, dimana Dewi Shinta disembunyikan oleh Rahwana di Taman Argasoka.

MI_patung_sabung_ayam.jpg
KOLEKSI GALERI SENI DAN KRIYA

Gedung Museum Indonesia berarsitektur Bali tiga lantai dikembangkan dari filosofi tri hita karana, yang menjelaskan adanya tiga sumber kebahagiaan manusia, yakni hubungan dengan Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan alam.

Lantai 1 bertemakan Bhinneka Tunggal Ika menampilkan keanekaragaman dan kekayaan budaya bangsa Indonesia kepada pengunjung melalui koleksi lukisan Citra Indonesia, pakaian pengantin, pakaian adat, alat musik tradisional, maupun wayang yang berasal dari seluruh Indonesia.

Lantai II berjudul Manusia dan Lingkungan. Memperagakan koleksi-koleksi yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari seperti upacara daur hidup mulai dari upacara nujuh bulan, upacara turun tanah, khitanan, potong gigi hingga upacara penobatan datuk. Miniatur rumah tradisional, kamar pengantin dari Palembang, ruang tengah rumah Jawa Tengah, dapur Batak, alat berburu, alat pertanian, alat rumah tangga, serta alat transportasi darat dan air.

Lantai III berjudul Seni dan Kriya. Di sini dipamerkan benda-benda seni hasil karya bangsa Indonesia dalam bentuk kain tenun ikat dan songket, batik, kerajinan perak, kuningan, tembaga, kayu, dan keramik. Di samping itu dipamerkan juga berbagai jenis perhiasan, senjata tajam dan juga mata uang logam dan kertas yang pernah beredar di Indonesia. Pada bagian tengah terdapat koleksi besar yang disebut Pohon Hayat atau Pohon Kehidupan yang terbuat dari tembaga dengan ukuran tinggi 8 meter dan berdiameter 4 meter, lambang alam semesta yang mengandung unsur udara, air, angin, tanah, dan api.

Museum juga dilengkapi fasilitas Bale Panjang, Bale Bundar, dan bangunan Soko Tujuh yang dapat disewa oleh masyarakat umum untuk keperluan gathering, pesta pernikahan, seminar, pameran atau pun pertemuan

Sumber: Brosur 'Museum Indonesia' dan 'Jelajah Misteri Peradaban Indonesia'

Alamat:
MUSEUM INDONESIA
Taman Mini Indonesia Indah
Jakarta 13560

Telp. 021 840 9246
Fax. 021 840 9213

http://museumindonesia.webs.com

Jam Kunjungan:
Senin-Minggu 08.00-16.00

Tiket:Pengunjung Rp 5.000
Kamera Rp 5.000

SEJARAH MUSEUM SATRIA MANDALA


sm_diorama.jpg
MUSEUM SATRIAMANDALA
Sejarah perjuangan bangsa Indonesia dalam rangka merebut dan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) memakan waktu yang cukup panjang dengan pengorbanan jiwa dan raga maupun harta benda yang tak ternilai harganya. Perjuangan bangsa Indonesia dengan TNI sebagai intinya, berjuang secara bahu membahu dalam suasana kebersamaan. Dalam perjalanan sejarah dapat disarikan bahwa sejarah perjuangan nasional termasuk didalam sejarah TNI mempunyai peran penting dalam meningkatkan jiwa dan semangat serta memperkuat jati diri bangsa dalam mencapai tujuan nasional. Karena dengan belajar sejarah masyarakat bangsa diharapkan mampu bersikap serta bertindak arif dan bijaksana dalam menghadapi masa depan. Oleh karenanya minat prajurit dan masyarakat untuk memahami dan menempatkan kehidupan berbangsa dan bernegara senantiasa harus ditumbuhkembangkan.
Museum-museum, monumen, dan perpustakaan di lingkungan Pusjarah TNI, menyajikan peninggalan sejarah perjuangan bangsa Indonesia, khususnya sejarah perjuangan TNI dalam merebut, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan melalui diorama-diorama. Diantaranya diorama yang menggambarkan tentang kejayaan Nusantara dan cita-cita mempersatukan bangsa tersaji di Museum Keprajuritan Indonesia. Sedangkan diorama-diorama yang terdapat di Museum Satriamandala menggambarkan tentang sejarah kelahiran Tentara Nasional Indonesia (TNI). Yang di dalamnya terdapat Gedung Waspada Purbawisesa yang menyajikan diorama yang menggambarkan perjuangan TNI bersama-sama rakyat dalam menumpas gerombolan separatis DI/TII. Selanjutnya penyajian diorama tentang peristiwa pemberontakan G30S/PKI terhadap NKRI terdapat di Monumen Pancasila Sakti. Selain itu koleksi-koleksi sumber tertulis, seperti buku-buku dan majalah-majalah yang berkaitan dengan sejarah perjuangan TNI tersedia di Perpustakaan TNI.
Melalui museum-museum, monumen, dan perpustakaan, masyarakat aan memahami perjuangan bangsa Indonesia khususnya sejarah perjuangan TNI dan sekaligus menumbuhkan motivasi untuk meneladani semangat juang para pahlawan bangsa.

sm_ruang_senjata.jpg
RUANG SENJATA
Museum Satriamandala terletak di Jalan Jenderal Gatot Subroto no.14, Jakarta Selatan. Gedung museum ini sebelumnya dikenal sebagai Wisma Yaso yaitu tempat kediaman Ratna Sari Dewi Soekarno dan tempat Bung Karno disemayamkan sebelum dimakamkan di Blitar, Jawa Timur.
Di museum ini tersimpan berbagai benda sejarah yang berkaitan dengan perjuangan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dari tahun 1945 sampai sekarang, seperti aneka senjata berat maupun ringan, atribut ketentaraan, panji-panji dan lambang-lambang di lingkungan TNI, kendaraan perang seperti tank dan panser, berbagai jenis pesawat terbang peninggalan masa lalu. Satu diantaranya adalah pesawat Cureng yang pernah diterbangkan oleh Agustinus Adisutjipto serta tandu yang dipergunakan Panglima Besar Jenderal Sudriman saat bergerilya melawan penjajah.
Di dalam museum terdapat 74 diorama yang menggambarkan peranan TNI dalam membela dan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Satu diantaranya adalah diorama yang menggambarkan tentang Pertempuran Surabaya pada tanggal 10 November 1945. Masih dalam kompleks Museum Satriamandala terdapat Gedung Waspada Purbawisesa menyajikan diorama yang menggambarkan perjuangan TNI bersama-sama rakyat menumpas gerombolan separatis DI/TII di Jawa Barat, Jawa Tengah, Aceh, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi pada tahun 60-an.
Selain diorama, dipamerkan pula dokumen, peta operasi, dan benda-benda relik lainnya. Fasilitas lain di museum ini adalah Taman Bacaan Anak, kios cenderamata, kantin, serta gedung serbaguna yang berkapasitas 600 kursi untuk berbagai kegiatan dan pertemuan.
Sumber: Brosur 'Profil Museum, Monumen, dan Perpustakaan PUSJARAH TNI'

Alamat:
MUSEUM SATRIAMANDALA
Jl. Gatot Subroto no.14
Jakarta 12710

Telp. 021-522 7946

http://www.sejarahtni.mil.id

Jam Kunjungan:
Selasa-Minggu 09.00-14.30
Senin dan hari besar tutup

Tiket:
Rp 2.500